Festival Jong Nongsa 2017, Menjaga Gairah Melayu di Tengah merosotnya idenditas budaya

Festival Jong Nongsa 2017

Batam - Festival Jong Nongsa di Pantai Kampung Melayu, Nongsa, Batam, 3-6 Maret 2017 telah usai. Menyisakan cerita bahagia akan suksesnya penyelenggaraan event tahunan Pemerintah Kota (Pemko) Batam ini. Bahasan mengenai pantai yang berubah menjadi lautan jong, indahnya malam ditemani lirik lagu melayu yang sarat akan makna, dan pernak pernik khas melayu menandakan betapa event ini bernilai. Menjadi wadah bagi terjaganya nilai budaya di bumi segantang lada.

Warna-warni pantai mengimbangi beragam ekspresi peserta yang siap dengan jong mereka. Meskipun ini adalah perlombaan, namun tidak membuat suasana lomba menjadi panas, para peserta malah nampak tetap cair.  Tawa dan canda menjadi ekspresi yang jamak menemani jalannya lomba. Ribuan peserta pada Festival Jong Nongsa 2017 ini menjadi oase di tengah kenyataan semakin menurunnya minat terhadap permainan tradisional. Terlebih ketika kita mengetahui bahwa peserta yang ikut adalah mereka yang tersebar di banyak daerah di Kepri. Mengindikasikan bahwa Jong masih mampu bertahan dan menjaga gairahnya.

Hal lain yang juga melegakan adalah peserta yang hadir dalam festival ini ada yang tergabung dalam kelompok-kelompok jong, sesuatu yang tentunya akan membawa dampak positif terhadap perkembangan permainan ini. Dengan berkelompok para penyuka jong akan lebih terlihat sehingga upaya memperkenalkan permainan tradisonal ini juga menjadi lebih mudah.


Jong adalah identitas, permainan tradisional yang telah turun-temurun menghibur masyarakat melayu pesisir. Dimainkan oleh orang tua di sela aktivitas mereka mencari nafkah sebagai nelayan. Sebagai produk budaya, permainan jong tentu memiliki keunikan yang membuatnya lebih bernilai. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri sehingga festival jong nongsa ini menjadi salah satu event potensial untuk menarik minat wisatawan untuk menyaksikannya.

Salah satu keunikan yang tampak jelas dalam gelaran ini adalah nama-nama tak biasa dari jong para peserta. Menggambarkan sifat jenaka masyarakat melayu. Mulai dari nama karakter unik seperti hantu laut, geliga, bahkan ada yang menamai jong mereka teroris yang tentunya mengundang tawa.


Tidak sampai di situ saja, permainan ini juga mensyaratkan ketelitian dengan beragam aspek teknis untuk bisa menghasilkan jong dengan kecepatan yang baik. Seperti perhitungan dalam menentukan ukuran layar dengan panjang jong, tingkat bukaan kete (penyeimbang jong agar tidak karam ketika dilepas), dan perhitungan lainnya yang cukup rumit.

Sejalan dengan program pemerintah yang mencanangkan peningkatan pada sektor wisata, festival ini sepertinya akan menjadi semakin spesial di masa mendatang. Jika saat ini pantai Kampung Melayu berubah menjadi lautan jong, bukan tidak mungkin akan diimbangi dengan lautan wisatawan di masa mendatang.

Comments