Tentang Ustad Umar
BARELAFEU-Alhamdulilah, saya kembali bisa datang di Kabupaten Garut, Jabar di awal November 2019. Kedatangan saya kali ini tidak berbeda dengan kunjungan pertama saya beberapa tahun lalu, ketika itu saya numpang main dalam perjalanan kawan saya dengan kawannya orang Garut.
Kali ini saya juga numpang main, hanya saja kawan saya kali ini main di Garut agak lebih lama, di lebih banyak tempat, bukan orang Garut, dan lebih banyak orang yang ditemui.
Satu diantaranya adalah Kanit Bin Tibmas Sat Binmas Polres Garut, Aipda Umar Taufik. Pada pertemuan pertama dengan beliau, kami berbincang di Mapolresta Garut selama kurang lebih satu jam. Pertemuan singkat tsb terasa berkesan, tidak hanya karena obrolan, rasa kopi Garut di tiap sesapannya ikut memberi warna. Rasa kopinya agak asam, sedap.
Di ruangan berisi susunan meja-meja panjang itu, Pak Umar bercerita sedikit tentang perjalanan hidupnya, dari seorang santri dari MI, MTS, dan MA, hingga jadi polisi, "Polisi santri," katanya. Perjalanan panjang memang, terurai dalam waktu sekitar sejam saja.
Pilihannya menjadi polisi sempat diragukan, termasuk dari keluarganya sendiri. Tapi dia berhasil meyakinkan ibunya, dengan janji terus menjaga gen santri di dalam dirinya.
"Santri kok jadi polisi. Saya bilang justru saya ingin menunjukan bahwa santri bisa juga jadi polisi, saya buktikan," kata Ustad Umar panggilan masyarakat padanya. Luluslah dia masuk polisi.
Di masa awal, Ustad Umar mengaku ciut menjalani pendidikan polisi. "Selamat datang di neraka dunia, itu sambutan pertama ikut pendidikan," kata dia.
Ustad Umar, mengaku sempat menangis, cuma saya lupa bagaimana dia bertutur.
Sampai akhirnya dia bisa bertahan, dan mulai menunaikan janjinya menjaga gen santri di kesehariannya. Salah satu caranya adalah berceramah ala Zainuddin MZ di depan teman sebarak.
Kebiasaan ini meluas, puncaknya di momen kelulusan dan dia diminta oleh kepala sekolah untuk tampil. Acara itu sampai malam, ia ketiduran dan terbangun karena disuruh ceramah.
"Siapa yg suka ceramah seperti Zainudin MZ, maju!!, Posisinya saya masih tidur," kata Umar sambil memperagakan gaya linglung dirinya kala itu.
Penampilannya memberi kesan, disuruh melanjutkan gen santrinya. Hingga akhirnya dikenal dengan polisi santri sampai sekarang.
Bumbu lain di perjalanan hidupnya, ia dibiayai umroh oleh Arif Budiman (Ajudan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang kala itu menjabat Kapolres Garut). Saya lupa tahun berapa ia berangkat ke tanah suci. Ia juga dibiayai umroh oleh agensi travel haji dan umroh (Al-Garuti kalau tidak salah) beberapa tahun setelah keberangkatan pertamanya itu.
Cara tuhan mengundangnya ke tanah suci Mekah, diakui Umar agak unik, kalau tidak ingin menyebutnya lucu. Dalam satu momen makan bersama dengan Arif Budiman, ia sambil melawak menerangkan sajian makanan yang ada kepada rekan sebelahnya, dengan logat timur tengah (Arab).
Kekonyolan itu terdengar oleh Arif Budiman, yang disebut terakhir ini membiayai keberangkatan dirinya ke Mekah setelah mengetahui ia belum pernah ke tanah suci.
"Ada makanan datang, saya bilang ini Onta. Ada minuman datang saya bilang ini Susu Onta, padahal yang datang daging Ayam, sama minuman biasa.
"Tahu-tahu pak Arif tanya, sodara pernah ke Mekah? Saya bilang belum. Kalau begitu nanti berangkat ya, saya kaget. Saya langsung bilang siap komandan.
"Saya juga dikasi biaya untuk perjalanan. Saya bilang terimakasih banyak Komandan, kebaikan komandan hanya allah yang bisa balas, semoga tercatat di lauhulmahfuz," kisahnya.
Ustad ini nampak terbawa suasana, matanya berkaca-kaca, tapi air matanya tidak tumpah.
Momen kedua dirinya ke Mekah agak berbeda, tapi saya ceritakan nanti saja. Saya bagikan momen unik lain saja dulu.
Umar muda ketika menjalani masa pendidikan (sebagai polisi kalau tidak salah), punya keinginan sama dengan yang lain, makan enak sepuas dan semaunya. Hal agak sulit kata dia.
Tapi momen itu datang pada dirinya tanpa diduga-duga. Ketika Umar diminta untuk maju menirukan Zainuddin MZ pada momen kelulusan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Umar mengaku sempat menelan ludah, menginginkan buah-buahan enak yang letaknya berada di meja para tamu utama. Keinginan itu ia adukan ke tuhan, kemudian ia tidur di tengah acara.
Sesaat setelah dirinya terbangun dan menyampaikan ceramah ala Zainuddin MZ itu, ia dipeluk oleh kepala sekolah (saya lupa namanya padahal sudah disebut berulang-ulang).
"Saya dipeluk, dibisikkan untuk melanjutkan perjuangan saya. Sebelum turun, disuruh untuk makan buah-buahan, sudah disiapkan di belakang panggung, katanya saya makan sendiri dan jangan sampai kelihatan yang lain, tidak enak kalau ketahuan.
"Tidak disangka, padahal itu cuma ada dalam hati saja," kata dia.
Pengalaman tersebut, kata Ustad Umar, membuatnya semakin tidak bisa menomorduakan tuhan (Allah). Apa-apa yang berlaku pada dirinya sampai saat ini, selalu dirasa bersumber dari rahmat tuhan. Termasuk keberhasilannya dua kali berangkat umrah gratis.
Berlandaskan keyakinan tersebut, Ustad Umar terus bergerak menebar manfaat kepada masyarakat di wilayah tugasnya. Ia dikenal sebagai polisi santri, memenuhi setiap permintaan warga mengisi pengajian. Di sekolah-sekolah, di rumah warga, di instansi pemerintah, bahkan Ustad Umar menjadikan rumah pribadinya sebagai tempat anak-anak belajar.
Uniknya, aktivitas Ustad Umar mengajari anak-anak ini atas dari permintaan warga. Ia juga tidak mengerti benar alasan warga percaya padanya. Jumlah anak yang belajar kian bertambah, dari awalnya sekitar 20 anak, menjadi lebih dari 60 anak hanya dalam waktu tiga bulan saja.
Dalam kondisi tersebut, ia terus berupaya menjaga tanggungjawabnya, meskipun terkadang waktu dirinya bersama keluarga harus terkorban. Untung istrinya paham, bahkan justru mendorongnya untuk berbuat lebih lagi.
Saya sempat mampir di rumah Ustad Umar pada Jumat (8/11) sore. Saat tiba di sana, beberapa anak yang menjadi muridnya sudah terlihat. Dengan buku belajar dan busana muslim lengkap, anak-anak ini tidak sungkan menghampiri, mencium tangan saya, setelah sebelumnya mereka mengerumuni Ustad Umar.
Mereka semakin ramai, suasana juga semakin riuh. Senang rasanya merasakan momen ini. Rasa ingin balek lagi jadi anak-anak.
Di lantai dua kediaman Ustad Umar, menjadi lokasi puluhan anak ini belajar mengaji. Dalam amatan saya, mereka tidak selalu mengaji, bahkan terlihat lebih banyak bermain.
Kondisi itu ternyata disengaja oleh ayah tiga anak ini, ia mengaku membebaskan anak didiknya dalam proses belajar. Nampaknya ia memahami betul psikologi anak-anak, menjaga hak bermain anak sambil menyisipkan nilai-nilai dasar keagamaan.
Hasilnya, anak-anak ini nampak lepas ketika diminta tampil, membawakan kebolehan mereka masing-masing selama belajar bersama Ustad Umar. Keren mereka.
Comments