Kisah Egoi, 52 Tahun Menjaga Tradisi Panen Ikan Dingkis Jelang Imlek
BARELANG-"Tidak pernah saya lewatkan sampai sekarang" itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Egoi, 63, nelayan asal Kampung Monggak, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), ketika disinggung momen panen ikan dingkis jelang perayaan imlek 2569 tahun 2018 ini.
Uban yang telah nampak memutih dan gerak langkahnya yang mulai melambat, tidak menyurutkan semangat Egoi menanti kedatangan ikan dingkis. Bahkan persiapan untuk memyambut momen itu telah dilakukannya sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Alat tangkap berupa "kelong" miliknya telah diperbaharui beberapa minggu sebelum masa bertelur ikan tahunan ini.
Kelong adalah jenis alat tangkap berbagai jenis biota laut yang memang banyak di Kepri. Ikan, kepiting, cumi, dan hewan laut lainnya bisa didapat dengan kelong. Alat tangkap jenis ini berupa jaring dengan ukuran sedang yang dibentuk sebagai perangkap. Menggunakan kayu sebagai tulang yang menegakkan jaring-jaring, kelong ini dibentuk dengan pintu yang menjorok ke dalam sehingga biota laut yang masuk ke dalamnya tidak bisa keluar, para nelayan menyebutnya 'Bunuh'.
Dalam satu kelong, terdapat beberapa Bunuh sehingga membentuk pintu berlapis yang semakin dalam semakin menyempit, memudahkan nelayan menangkap ikan yang sudah terperangkap. Di bagian lain kelong, dipasang jaring mengarah ke sisi luar kelong untuk menuntun ikan masuk ke Bunuh, jaring-jaring ini disebut 'Penajur' yang dipasang di sisi samping dan bagian belakang kelong, dengan ukuran panjang tertentu. Semakin panjang penajur semakin baik untuk kelong.
Selama lebih dari 50 tahun ia menjalani masa-masa jelang perayaan imlek ini, Egoi mengaku selalu bergairah. Ada sesuatu yang memang hanya bisa dirasakan mereka yang telah berulang kali terlibat dengan aktivitas ini. Bermalam di tengah laut, panen tangkapan di waktu subuh, diterjang badai hingga kelong roboh, menyaksikan ribuan ekor ikan masuk ke kelong, dan banyak lagi hal-hal yang menurutnya meninggalkan kesan. "Ada saja yang kita tunggu, selagi saya bisa akan terus menjaga ikan dingkis ini," kata Egoi ketika ditemui di kediamannya pada Rabu (15/2).
Egoi mengatakan masa panen ini tidak selamanya menguntungkan buat nelayan di daerahnya. Ada momen-momen dimana tangkapan nelayan tidak sesuai harapan, bahkan hanya untuk makan saja tidak bisa. Kalau sudah begitu, egoi mengaku hanya bisa pasrah dan berharap tahun depan akan banyak dingkis yang didapat. Namun demikian ia dan nelayan lain selalu antusias menyambut momen ini setiap tahunnya.
Ketika menanggapi hubungan imlek dengan masa bertelur ikam dingkis ini sendiri, Egoi mengaku tidak tahu secara pasti. Cuma, dari pengalamannya ikan yang memiliki sengat yang cukup menyakitkan ini menjadi faktor penting menjaga keberuntungan masyarakat tionghoa di kawasan Kepri, termasuk masyarakat tionghoa di Singapura dan Malaysia. Itulah kenapa harga ikan ini memiliki nilai jual yang tinggi.
Umumnya, masyarakat tionghoa yang biasa membeli ikan darinya mengatakan jika mereka tidak menyediakan ikan dingkis pada momen sembahyang di hari imlek, maka keberuntungan akan menjauh. "Jadi ikan dingkis ini harus ada untuk sembahyang mereka, kalau tidak kurang bagus," jelas Egoi.
Tak bisa tidur sepanjang malam
Dari beberapa momen menjaga dingkis ini, egoi menceritakan bagaimana ia pernah mendapatkan ratusan kilogram dingkis hanya dalam waktu semalam. Ketika mendapati ikan dengan jumlah tersebut, ia mengaku tak bisa tidur. Sepanjang malam ia dan anaknya berjaga, melihat pancaran merah dari mata ikan yang memenuhi 'bunuh' kelong miliknya. "Semangat kita kalau nengok di dalam kelong kita sudah memerah. Pasti dapat banyak," kata Egoi yang juga merangkap imam di kampungnya ini.
Jumlah ikan yang cukup banyak itu, kata Egoi biasanya tidak sekaligus bisa diambil dari kelong. Butuh beberapa kali sampai semua ikan bisa diangkat ke sampan. Terkadang ia menunggu penampung yang singgah di kelong dengan menggunakan pancung (kapal cepat) yang mereka sebut 'peraih'. Para peraih memang sering terlihat ketika musim ikan dingkis seperti ini. "Kalau harganya tinggi kita lepas ke penampung. Kalau rendah kita jual ke Tanjungpinang," kata Egoi.
Beberapa tahun belakangan, pendapatannya ketika musim panen dingkis ini memang sedikit menurun. Ia mengatakan banyaknya maayarakat yang juga membuat kelong ikut berpengaruh pada pendapatan nelayan yang lebih merata. Namun demikian hal tersebut tidak sampai membuat gairah pada momen imlek ini menurun. Aktivitasnya ini bahkan sudah turun ke anak-anaknya, Egoi mengaku saat ini tiga anak laki-lakinya sudah memiliki kelong sendiri.
Menurunnya pendapatan nelayan di masa panen ini, kata Egoi, juga dipengaruhi oleh musim yang tidak lagi sesuai dengan perhitungan tradisional nelayan. Keadaan angin cenderung sudah mulai bergeser dan agak sulit diprediksi. Seperti musim Utara saat ini, Egoi mengatakan sudah jauh berbeda dari musim-musim utara di tahun sebelumnya. "Agak susah sekarang, sudah tak jelas musimnya, sekarang musim utara tapi kadang anginnya bercampur dengan angin Barat," jelas Egoi yang memiliki lima anak laki-laki dan tiga perempuan ini.
Egoi yang merupakan putra asli Melayu di Kecamatan Galang, mengaku sejak kecil telah diperkenalkan dengan kelong oleh ayahnya. Sejak umurnya sekitar 10 tahun, ia sudah ikut ayahnya berjaga ikan dingkis. Hal tersebut akhirnya menjadi momen yang selalu ia tunggu setiap tahunnya.
Meskipun tidak sekuat dulu, dengan bahan kayu pembuatan kelong semakin langka, ia masih tetap ingin menjaga tradisi panen ikan dingkis menjelang perayaan hari raya imlek. Entah dengan bantuan dari anaknya, atau bahkan harus membeli kayu untuk kebutuhan alat tangkap ikan ini, Egoi memang belum ingin berhenti.

Comments