Sejarah Awal wisata Kampung Terih, Wisata Kampung Tua Untuk Kaum Muda



BARELAFEU-Sampai di area parkir kawasan kampung sekitar pukul 10.15 WIB, arah pandangan saya langsung tertuju pada lelaki yang tengah duduk sambil memegang smartphone yang masih tersambung dengan kabel charger menuju powerbank tipis. Lelaki dengan dengan pakaian coklat itu terlihat asik menyentuh layar smartphone. Ia tidak menghirauakan beberapa warga yang ikut duduk bersamanya di kursi kayu dalam pondok kecil, demikian juga dengan aktivitas warga lain di bibir pantai yang terlihat sedikit berbatu, seolah tidak mengganggunya. ingga akhirnya ia menyadari saya sudah berada di sebelahnya.

Senyum lebarnya tak terbendung, sambil mengulurkan tangan, Nunung Sulistiyanto, 45, langsung mengajak bergabung menunggu berakhirnya prosesi Mandi Safar di kawasan pantai Kampung Terih, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Mandi Safar sendiri adalah prosesi adat masyarakat kampung Terih pada setiap hari Rabu terakhir bulan Safar. Di 2018, agenda ini berteptan dengan 7 November, hari dimana saya membuat janji dengan Nunung selaku pengelola kampung tua yang disulap menjadi objek wisata baru terpopuler di Indonesia.

Sebagai pengelola kawasan, Nunung mengaku tidak pernah memberi batasan bagi warga kampung berkegiatan,  ia justru mendorong hadirnya kearifan lokal yang bisa langsung dinikmati siapapun yang datang berkunjung.

Berakhirnya prosesi adat Mandi Safar yang bertujuan untuk menolak bala atau musibah, mengawali perbincangan saya dengan lelaki berkulit agak gelap ini. Kami bergeser ke bagian lain kawasan, meninggalkan beberapa warga kampung yang tengah asik berbincang, tentu dengan berpamitan sebelumnya.

Dengan kacamata hitam tersandang di kepalanya, kami berjalan menuju pelantar yang berada di bagian kanan kawasan jika kita berdiri dengan posisi menghadap laut. Sebelum sampai di pelantar, kami melewati spot foto unik berisi berbagai tulisan lengkap dengan kursi di bawahnya. Di bagian laut spot tersebut terpajang tulisan berukuran besar bertuliskan kata “KAMPUNG TERIH” dengan warna yang berbeda dari masing-masing karakter.

Nunung Sulistiyanto, 45







Sampai di lokasi, Nunung membuka obrolan dengan penjelasan bahwa pelantar berukuran lebar sekitar satu meter ini adalah properti pertama yang ia bangun ketika memutuskan mendirikan destinasi wisata Kampung Terih pertengahan 2017 lalu. Pelantar ini berdiri diantara pohon bakau (mangrove) untuk memudahakan pengunjung menjelajahi hutan bakau tanpa harus berbasah-basahan.

“Cukup panjang juga, kita bangun dua tahap, tahap pertama dari ujung hutan, tahap keduanya baru selesai,” kata Nunung.   

Bersamaan dengan pembangunan pelantar, Nunung yang juga Ketua Penjelajah Alam Kepri (Pari) dengan tujuh rekannya memulai pembersihan area yang dinilai strategis. Mulai dari kawasan pantai, bagian dalam kawasan yang masih seperti hutan, kawasan lapangan yang dipenuhi tumbuhan liar, hingga membersihkan area di sekitar pohon-pohon besar yang terdapat di kampung ini.

Dalam prosesnya, butuh waktu sekitar lima bulan bagi ayah tiga anak ini bahu membahu membersihkan area sampai akhirnya dinilai layak untuk dikunjungi wisatawan.

Mengingat kembali masa-masa awal yang terbilang nekat tersebut, Nunung hanya bisa tersenyum dan menggeleng. Sambil sesekali memperhatikan smartphone miliknya, ia berkisah kalau ide awal membangun Kampung Terih ini datang tiba-tiba. Semula Pari yang dikepalainya hanya ingin berkontribusi memperkenalkan seluruh kampung tua yang ada di Batam. Dimana di Batam sendiri terdapat 34 kampung tua yang telah ada jauh sebelum Pembangunan Batam dimulai.

Melihat potensi kampung yang berhadapan langsung dengan hamparan gedung bertingkat di kawasan Batam Centre, Batam; hijau dan lebatnya pohon bakau yang bersanding dengan beberapa pohon besar di bagian darat kampung; serta kearifan masyarakat kampung; menghasilkan imajinasi lain yang ternyata juga dirasakan oleh teman-temannya. 

“Pas sampai di sini (Kampung Terih) langsung muncul obrolan dari kawan-kawan, kita sepakat untuk bangun wisata di sini. Setelah berkoordinasi dengan masyarakat, kita langsung mulai,” kata Nunung.

Obrolan kami sempat terhenti sejenak karena Nunung meminta izin menjawab panggilan masuk dari smartphone hitam miliknya.

Di jeda tersebut, bayangan bagaimana awal usaha Nunung dan rekan-rekannya membangun kawasan ini tergambar cukup menantang, kalau tidak mau menyebut berat. Bagaimana tidak, saya yang bisa memperhatikan sebagian kawasan dari pelantar ini, mendapati area yang dibangun cukup luas, terlebih dengan kondisi area yang berbeda-beda.

Seperti di area bekas hutan di ujung kawasan yang sekarang disulap menjadi salah satu kawasan utama wisata ini, dimana saat ini di dalamnya tersedia pondok-pondok kecil, panggung, jembatan, hingga rumah pohon yang sangat menarik untuk dijadikan latar berfoto. Bagaimana awalnya mereka harus mencangkul, menebas semak belukar, dan membersihkan rerumputan liar yang ada. Belum lagi proses pembuatan properti tersebut yang tentu memerlukan diskusi dan perang ide antar sesama anggota.

Salah satu sudut di Kampung Terih


Keresahan yang terbayang ini akhirnya sampai juga ke telingan Nunung yang beberapa saat kemudian Mengakhiri obrolannya melalui sambungan smartphone. Nunung justru tersenyum lebar ketika pertanyaan menyoal beratnya perjuangan membangun Kampung Terih ini diketengahkan. Manfaat yang saat ini didapat masyarakat yang terhimpun dalam 38 Kepala Keluarga, diakuinya jauh lebih menyenangkan. Mengalahkan beratnya perjuangan di awal pembangunan yang tidak ditampiknya.

Ia mengaku jauh lebih tertarik jika membicarakan bagaimana perubahanyang dialami masyarakat selamakurang lebih satu tahun kampung terih menjadi destinasi wisata. Saat ini masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan aktivitas mereka sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bertransformasinya Kampung Terih sebagai destinasi wisata, membuka ruang hadirnya transaksi ekonomis yang itu benar-benar dimanfaatkan warga.

“Kita sediakan lapak, itu memang dimaksimalkan. Pengunjung juga menggunakan jasa warga ketika mereka ingin bermain di laut dengan sampan,” jelasnya.

Masih dengan semangat yang sama, nunung terus berkicau dengan mata yang sesekali membesar, tanda ia memberikan penekanan pada poin-poin tertentu. Di bawah teduhnya bakau siang itu, Nunung menjelaskan bahwa dukungan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memberikan banyak pengaruh mengiringi perkembangan Kampung Terih sebagai destinasi yang digandrungi kaum milenial ini. Memberikannya acuan bagaimana berpromosi melalui pendekatan digital, menghadirkan spot-spot unik yang bisa dinikmati, memaksimalkan suasana kampung dengan tema yang berubah-ubah, dan hal-hal yang pada akhirnya menjadi karakter Kampung Terih saat ini.

Sambil menunjuk pelabuhan kayu yang berada di bagian tengah kawasan, Nunung mengaku pernah mendekor pelabuhan itu menjadi area payung terbang. Hadirnya konsep payung terbang di pelabuhan sepanjang sekitar 50 meter tersebut, mengudang daya tarik masyarakat untuk berkunjung. Pengunjung yang mengabadikan momen itu dan menyebarkannya di dunia maya, memberikan dampak nyata dengan hadirnya lebih banyak pengunjung.

Sambil mengingat-ingat berapa tema yang telah dihadirkan menjelang satu tahun Kampung Terih sebagai destinasi wisata pada 10 Desember mendatang, Nunung mengaku juga pernah menampilkan konsep Imlek pada momen perayaan tahun baru imlek, konsep puasa dan lebaran dengan ketupatnya, dan tema-tema lain bertepatan dengan peringatan hari besar nasional.

Ia mengaku tidak ingat secara pasti jumlah pengunjung yang datang, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun tidak kurang antara 1.000 sampai 3.000 orang selalu berkunjung di kawasan ini setiap bulannya. Dengan segala kelengkapan yang ada nunung mengatakan biaya masuk sebesar Rp5 ribu tidak menjadi soal buat pengunjung.

Tidak puas penjelasanya sendiri, dengan kacamata yang masih juga terpasang di kepalanya, Nunung mengajak saya untuk melihat langsung spot yang terhampar di sudut-sudut kawasan. Mulai dari menyusuri pelantar yang dibeberapa bagianya berisi tulisan menggelitik, rumah pohon yang dijadikan spot foto utama pengunjung. Dimana pada waktu-waktu tertentu pengunjung harus antri untuk bisa menaiki anak tangga dan sampai di spot foto yang cukup tinggi ini.

Nunung juga tidak melewatkan, area atraksi yang terakhir dipakai untuk memperagakan alat musik Angklung yang berada tidak jauh dari pelantar. Di lokasi yang cukup luas ini berdiri lapak-lapak yang difungsikan warga untuk meletakan dagangan mereka  pada setiap akhir pekan. “Kalau mau Rajungan goreng, Laksa, Roti Jala, datang aja ke sini. Tiap Sabtu dan Minggu banyak makanan khas melayu dijual,” katanya lagi.

Seusai menjelajahi spot yang ada, Nunung yang terus menyahut karena selalu ditegur setiap kali berpapasan dengan warga, mengaku akan terus memaksimalkan potensi pariwisata yang bisa dikembangkan. Ia mengaku belum puas walaupun saat ini  Kampung Terih menjadi yang teratas dalam Anugerah Pesona Indonesia 2018, dalam kategori Tujuan Wisata Baru Terpopuler. Mengalahkan Lava Bantal di Kabupaten Sleman, Yogyakarta; Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat; dan destinasi baru lainnya.

Nunung juga tidak jumawa dengan capaian Kampug Terih yang belum genap setahun telah dikunjungi ratusan turis dari sekitar 16 negara yang berasal dari negara Asia dan Eropa.

Ia berharap di tahun-tahun mendatang kontribusi Kampung Terih sebagai satu dari tiga destinasi digital di Kepri mampu mendukung hadirnya devisa secara maksimal. Mempertahankan gaya berpromosi dengan memanfaatkan media sosial; menggandeng anak-anak muda yang tergabung dalam Generasi Pesona Indonesia (Genpi) bentukan Kemenpar, mulai dari tingkat provinsi hingga pusat; diyakini akan menjaga perkembangan Kampung Terih menuju destinasi unggulan. Walaupun tidak dipungkiri, kreativitas menghadirkan spot-spot unik juga memegang peran yang tak kalah penting.



Genpi yang bergerak masif melalui portal sosial media dalam memperkenalkan kekhasan Kampung terih, memberi sumbangsih besar dalam aspek popularitas kampung tua ini hingga ke dunia internasional. “Menjadi motor utama kita, sampai kita berhasil meraih anugerah dari kemenpar,” kata Nunung lagi. 

Di penghujung obrolan, Nunung berharap dukungan dari semua pihak untuk menghadirkan kelengkapan lain di kawasan ini. Meskipun sudah dikenal luas, lelaki kurus ini tidak mengelak akan adanya kekurangan. Dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Batam, BUMN, dan CSR dari perusahaan, diyakini akan sangat menunjang pengembangan kawasan wisata ini.

Comments