Jelajah Sumatera, Menyusuri Jalanan Riau, Sumut, Aceh


Dua becak motor (bentor) di salah satu jalanan Pulau Sumatera.

BARELAFEU-Melintasi lebih dari 1.200 kilometer jalanan Kota Pekanbaru (Riau), Medan (Sumatera Utara), dan Banda Aceh (Aceh) memberi ruang lebih buat mata saya, walaupun di sepanjang perjalanan itu tidak selalu saya terjaga. Sesekali nikmatnya lika-liku jalanan di Barat Indonesia ini saya rasakan dalam nyenyaknya tidur.

Selain pemandangan hamparan perkebunan Kelapa Sawit yang mendominasi, ada hal lain yang menarik hati saya ketika menyusuri beberapa wilayah di tiga provinsi ini. Satu diantaranya adalah Becak Motor (Bentor), entah mengapa bentor ini selalu menarik. Mungkin saja bentor adalah daya tarik yang sebenarnya buat saya. Nantilah kita bahas soal bentor ini. 
  
Saya sampai di Provinsi Riau pada 12 September 2019 atau dua hari setelah memantapkan niat bertualang. Saya bertolak dari Batam menggunakan kapal ASDP. Selama sekitar 18 jam di kapal, bayangan seperti apa kondisi Provinsi Riau sedikit banyak sudah saya ketahui, walaupun akurasinya masih perlu dipertajam lagi. Ketika itu, Provinsi Riau tengah dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan.

Beberapa jam sebelum bersandar, abu-abunya Riau sudah jelas terlihat. Hutan-hutan yang memagari perairan dimana KMP Lome, kapal ASDP yang saya tumpangi melintas tertutup kabut asap tebal. Dari pelabuhan Mengkapan di Kabupaten Siak, kabut asap mengringi perjalanan saya menuju Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Saya bertahan di Bumi Lancang Kuning ini selama satu minggu. Kadang kabutnya tebal, kadang juga tidak.

Karena kondisi itu, tidak banyak hal yang saya lakukan, saya lebih banyak berada di penginapan. Padahal sejumlah destinasi menarik di Riau telah dipetakan. Saya hanya mampir di Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, itu pun tidak lama.  

Meninggalkan Pekanbaru yang penuh asap, saya bergerak menuju Provinsi Aceh pada Kamis (19/9/2019). Saya sempat mampir semalam di Rantau Prapat dan semalam di Deli Serdang, Sumut. Sepanjang perjalanan  itu kabut asap masih berhias di langit Sumatera. Begitu juga dengan Sawitnya.

Saya akhirnya tiba di ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh pada Minggu (22/9/2019). Kondisi ini sedikit bergeser dari rencana awal dimana saya lebih dulu akan menginap satu malam di Kota Lhokseumaweh. Saya bahkan sempat mengulik sedikit informasi tentang kota pelabuhan ini.

Perjalanan terasa lebih berat karena pergeseran tersebut, saya baru tiba di Banda Aceh pada tengah malam, sekitar pukul 00.30 WIB. Saya terpaksa melintasi kawasan Gunung Seulawah sebelum sampai di Banda Aceh, kawasan dengan medan berliku dan curam malam itu. Saya sempat tertidur sebentar, namun kembali terjaga oleh tikungan tajam yang mengocok perut. 

Cukup lama rasanya saya melintasi kawasan Gunung Seulawah ini, merasakan sensasi berputar ke kiri, ke kanan, menanjak, kadang berpapasan dengan kendaraan di tikungan tajam, menahan nafas saat laju kendaraan terasa lebih kencang saat melalui jalur yang menurun.  
    
Di tengah perjalanan saya juga teringat cerita seorang kawan yang pernah berjalan kaki di sepanjang jalur ini, dimana sang kawan mengaku sempat diikuti oleh makhluk halus. Kejadian itu tidak hanya dirasakannya sendiri, namun pengendara mobil yang kebetulan meintas ketika itu juga menyaksikan sosok makhluk sedang duduk di tas besar miliknya.

Sepanjang perjalanan itu, ia terus berdo’a memohon perlindungan tuhan. Ia terus berjalan hingga gangguan itu berakhir. Beberapa saat setelah itu dirinya tak kuasa menahan tangis hingga terkencing-kencing.      
    
Rasa lelah perjalanan pagi hingga malam tersebut, tersasa kian bertambah kala saya sampai di sebuah rumah makan di Banda Aceh. Niat hati ingin segera melepas lelah dan rasa lapar, saya justru dibuat jengkel karena pesanan tak kunjung datang setelah menunggu sekitar hampir satu jam.

Ternyata Nasi Goreng pesanan saya sudah habis, saya tidak tahu itu. Sebabnya, sang penjual berkomunikasi dengan bahasa Indonesia Campur Aceh yang begitu kental, apa mau dinyana,saya pesan ulang dengan menu makanan tercepat yang bisa disajikan, Mie Aceh Goreng.

Saya bertahan di Provinsi Aceh selama enam hari, empat hari di Banda Aceh dan dua hari di Kota Sabang. Kedua kota ini (Banda Aceh dan Sabang) terasa lebih ramah dibanding Pekanbaru,walaupun memang kabut asap tipis juga sesekali terlihat. Saya singgah di Masjid Raya Baiturrahman, menyesap Kopi Solong di Ulee Kareng, menyeberang ke titik Nol Kilometer, dan bermain dengan aneka ikan di Pulau Rubiah dihari terakhir.

Saya selanjutnya bergeser ke Provinsi Sumut pada Sabtu (28/9/2019). Pagi-pagi sekali saya bertolak. Baru berjalan sekitar 15 menit, kendaraan yang saya tumpangi harus berhenti , ternyata seekor kucing tertabrak. Sopir mobil yang saya tumpangi berusaha menghindar, namun tetap mengenai hewan malang tersebut. 

Jarak berhenti mobil dengan lokasi kejadian cukup jauh, agak menyulitkan kami menemukan kucing itu, belum lagi saat itu kondisi memang masih gelap.  Saya sempat berfikir kucing ini selamat karena tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Kenyataannya tidak, seorang kawan perlahan mendekat sambil membopong kucing berwarna putih kuning dari tengah jalan. 

Tidak ada darah di sekujur tubuh kucing ini, namun kondisinya saat itu sudah tidak lagi bergerak. Sang sopir kemudian mendekat sambil membawa sehelai baju mliknya, si kucing dibungkus dan dikuburkan tak jauh dari sana. 

Sempat ada penumpang wanita yang menangis, kasihan dengan si kucing. Reaksi serupa juga keluar dari supir mobil ini, ia tidak menangis, tapi langsung meminta rekan lain menggantikannya di kursi driver. Sebuah kejutan di awal perjalanan panjang menuju Medan, Sumut.

Setelah insiden itu, perjalanan relatif lancar, saya sampai di Medan sekitar pukul 19.30 WIB. Di sana saya sudah ditunggu seorang kawan, meski lelah, tradisi ngopi tetap berjalan seperti biasa. Saya pesan Jeruk Panas Manis, kami ngopi hingga agak larut.

Selain menyempatkan diri singgah di Istana Maimun di Medan, saya juga mampir meihat aktivitas belajar anak-anak pemulung di Taman Pintar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun di Kabupaten Belawan dan mengitari indahnya Pulau Samosir. 

Di Samosir, saya tidak melewatkan momen bersama Danau Toba. Saya terjun dan berenang ria, agak takut awalnya, keasikan akhirnya. Dua hari terakhir berada di Samosir, saya selalu sempat untuk berenang di danau meski ketika itu diselimuti kabut cukup tebal.

Bentor
Rasanya semua orang Indonesia tahu dengan Bentor, sejak lama ia ada hampir di setiap daerah. Selama ini, saya memahami Bentor hanya sebagai sarana transportasi untuk memudahkan gerak masyarakat. Tenyata tidak, ada hal lain yang sejatinya bisa diartikan dari aktivitas Bentor yang saya temui. Memiliki fungsi yang tidak main-main, jauh melampaui bayangan saya sebelumnya. 

Petrik Matanasi dalam tulisannya Riwayat Becak: Dari Zaman Meiji sampai Bang Ali mengetengahkan fakta tentang awal kemunculan becak, yang kemudian berkembang dalam bentuk Bentor di Indonesia seperti saat ini. 

Dalam tulisan yang dimuat di laman tirto.id (30 Januari 2018) tersebut, Matanasi mengutip Erwiza Erman dalam Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa (2003), bahwa becak roda tiga sudah diimpor ke Indonesia sejak 1914 dan pada tahun 1930 sudah ada sekitar 100 becak. Kehadiran becak di Indonesia mengalami peningkatan pesat antara tahun 1945 hingga 1948. Dari semula hanya ada 400 becak pada tahun 1945, tumbuh mencapai 9.000 becak pada tahun 1948.

Matanasi juga mengetengahkan fakta akan kondisi penarik becak saat itu. Dimana mereka sangat dekat dengan kemiskinan lewat upah yang sangat murah. Mereka juga dekat dengan dunia mesum, beberapa tukang becak diketahui terlibat dalam usaha pelacuran.

Lain dulu lain sekarang, amatan singkat saya sekitar seminggu di Pekanbaru, seminggu di Aceh, dan seminggu di Sumut memang tidak bisa menjelaskan secara detil bagaimana becak saat ini berperan di masyarakat. Tapi, rasanya ada keyakinan besar kalau kemuraman becak di masa lalu telah jauh bergeser.

Kita mungkin pernah mendengar ada tukang becak yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus perguruan tinggi, ada tukang becak berhasil naik haji. Walaupun mungkin praktik negatif dengan becak ini juga tetap ada.

Di jalanan di tiga provinsi ini, saya menemukan becak yang memiliki penutup lengkap, hanya tertutup sebagian, bahkan ada becak yang bentuknya cuma bagian lantainya saja. Mungkin menyesuaikan dengan peruntukannya.

Beberapa becak yang berpapasan dengan saya di jalanan Riau dan Aceh, tidak terlihat perbedaan yang mencolok, baik itu becak yang difungsikan untuk mengangkut penumpang maupun becak yang peruntukannya untuk mengangkat barang. Tempat duduk penumpang atau barang berada di bagian kiri, sementara sang joki berada bergandengan di bagian kanan becak. Di bagian bawah kursi penumpang atau barang terlintang besi penghubung antara roda tambahan dan badan motor tempat joki mengendalikan becak.

Penampakan agak berbeda saya temui di jalanan Sumut, penampilan bentor di sini lebih mengedepankan kenyamanan penumpang dengan hadirnya suspensi. Dua buah per seukuran suspensi sepeda motor terlihat jelas bergerak turun naik ketika bentor berjalan.  Gerakan turun naik lingkaran besi putih tersebut semakin jelas terlihat ketika bentor melalui jalur yang tidak rata. Agak unik memang, sayang tidak sempat saya coba, saya pun tak tahu berapa tarifnya.

Terlepas dari setiap keunikannya tersebut, saya selalunya geleng kepala menyaksikan bentor-bentor melintas, tidak menyangka kendaraan ini begitu perkasa. berperan penting dalam setiap gerak masyarakat, utamanya bagi kelas menengah ke bawah mungkin.

Saya terkejut dengan bawaan bentor di salah satu Ruas jalan di Pekanbaru, ketika itu ruang bentor diisi penuh oleh bongkahan Kelapa Sawit, bahkan melebihi tinggi kapasitas yang tersedia. Ia bergerak leluasa layaknya truk sawit pada umumnya, hanya ia beroda tiga.

Di Sumut juga demikian, saya mendapati sebuah bentor bermuatan dua kali lebih tinggi dari seharusnya. Dua buah kotak plastik buram termakan usia tersusun bertingkat jauh melebihi tinggi kepala si joki. Di bagian depannya terlintang tumpukan barang, juga persis berada di atas kepala joki laki-laki bertopi itu.

Penampakan muatan bentor ketika saya melintasi salah satu kawasan di Sumut

Di Provinsi Aceh lain lagi, sebuah bentor menarik perhatian saya dengan muatan material atap spandek dan semen di atasnya. Tumpukan spandek sepanjang sekitar delapan meter dan beberapa sak semen yang ditata bertingkat tetap membuatnya berjalan. Walaupun jalannya pelan, pemandangan itu sungguh tidak biasa buat saya. Hebat ini bentor.

Banyak lagi kekaguman lain saya akan hadirnya bentor di masyarakat Riau, Sumut, Aceh, dan daerah lain di Sumatera. Walaupun hanya sambil lalu, saya bisa melihat bentor menjadi salah satu alat transportasi bagi anak-anak sekolah, menjadi media iklan bagi berbagai poduk komersial, bahkan digunakan sebagai alat kampanye untuk pemilu serentak 2019 lalu.

Dekatnya bentor dengan masyarakat kelas menengah ke bawah yang memang posisinya dominan, menjadikannya begitu bermanfaat . Mungkin pemerintah juga bisa memperhitungkan posisi strategis bentor. Bisa saja menjadi wadah sosialisasi dan edukasi program-program pemerintah. Saya meyakini bentor akan lebih ekonomis, lebih bisa menjangkau masyarakat, dan secara tidak langsung akan pemerintah memberi jalan lain bagi para joki mendapatkan rejeki.

Matanasi mengutip dari East Asia: Tradition &Transpormation (1989), John King Fairbank menyebut becak adalah campuran aneh antara Barat dan Timur yang ditemukan di Jepang pada 1869. Ini adalah kombinasi yang cerdik dari roda gaya barat yang superior dengan tenaga kerja Timur yang murah dan tersebar.

Matanasi juga mengutip Francis Warren dalam Rickshaw Coolie: A People’s History of Singapore,1880-1940 (2003: 14). Warren mencatat ada tiga orang berbeda yang punya jasa dalam penciptaan becak. Pertama seorang misionaris Amerika bernama Jonathan Goble; kedua orang Jepang bernama Akiha Daisuki; dan ketiga seorang samurai bernama YousoukeTzumi.
  
Dikutip Warren dari Malay Mail (27/04/1965), di jepang becak disebut jinrickisha, dalam bahasa Inggris disebut rickshaw, dalam bahasa Hokkien diartikan sebagai kan cha. Sementara istilah becak sendiri, Matanasi kembali mengutip Erwiza Erman, kata tersebut berasal dari kata be dan chia (Tionghoa) yang artinya kendaraan.                                                           

Semoga bermanfaat

Comments