Gunung Prau Candu Kedua


Jumat (6/12) menjadi kali kedua saya menjejakkan kaki di Gunung Prau, Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng). Tapak tilas setelah sekitar enam tahun lalu pertama dan  terakhir saya ke sini. Pendakian kedua ini nampaknya juga menjadi candu kedua buat saya.

Kali ini saya mendaki dengan kawan yang berbeda. Tiga kawan saya sebelumnya (@tari_wbl @dimashamdayu_ dan @ekaputridharmayanti) sudah menjadi ibu dan bapak, padahal pasti akan sangat seru andai mereka bisa bergabung. Tapi tak mengapa, toh saya masih bisa ceritakan tentang Prau pada mereka, siapa tahu mereka bisa ikut merasakan candu.

Bersama empat rekan sependakian, @ruviestrada @nianovianti18 @fahmighif dan @abdualifah momen saya mendaki hampir sama dengan pendakian sebelumnya. Sama-sama berangkat malam (sekitar pukul 23.30 WIB) dan turun pada tengah hari besoknya. Lengkap dengan hujan yang mengiringi perjalanan kami.

Jalur pendakian dari pos 1, pos 2, dan pertengahan antara pos 3 menuju puncak, sudah jauh berubah. Jalan tanah dulunya telah berubah menjadi tangga-tangga dari batu. Sepanjang jalur ini (pos 1 dan 2) juga telah berdiri warung, menyediakan kebutuhan pelepas dahaga pendaki.
Jalur tanah dan akar yang masih tersisa juga berubah menjadi lebih lebar, dua kali lebih lebar dibanding pendakian pertama saya.

Meskipun ia berubah seiring waktu, Prau tetaplah Prau, gunung indah penebar candu.
Sampai di puncak sekitar pukul 02.30 WIB, seperti sebelumnya saya tidak ikut mendirikan tenda, tapi jadi yang pertama masuk dan tidak keluar lagi sampai lama. Hanya keluar sekali karena tak kuasa menahan kencing.

Paginya, lembayung fajar menggoda kami. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, padahal hujan pada malamnya sempat membuat yakin baiknya cuaca pagi.

Kondisi ini sama dengan pendakian saya sebelumnya. Saya jadi ingat aroma kentut dari tamu tenda kami asal Depok @chaesurya kala itu. Saat kami tengah tenang berteduh dari basah kabut dan hujan. Luar biasa aromanya.

Cuaca benar-benar cerah sekitar satu jam setelahnya, memberi ruang pada kami menikmati pagi, walaupun matahari sudah agak meninggi. Kami berpisah, mencari sudut-sudut yang dirasa pas untuk diri sendiri. Memandangi gagahnya Sindoro dan Sumbing, lautan awan yang menghampar, bunga Daisy mekar yang basah oleh kabut.

Ingin rasanya berlama-lama, tapi dingin udara memaksa kami kembali ke tenda. Kami makan, tidur, lalu pulang. Alhamdulilah perjalanan pulang kami berjalan lancar, kami bersepuluh tiba di basecamp pada sorenya. Berbincang sejenak sebelum akhirnya melangkah sesuai arah masing-masing.
Di tengah perjalanan naik, kami bertemu dengan tiga pendaki asal Tangerang Selatan (Tangsel), bergabung dengan kami sampai akhirnya tiba kembali di basecamp. Pada perjalanan turun, kami kembali ketambahan dua pendaki asal Cirebon, seorang pemuda tambun yang baru pertama mendaki @haris_deckraw99 dan seorang pendaki senior @ghie_ogi

Sewajarnya orang yang baru bersentuhan dengan dunia pendakian, selalu membawa karakter unik. Kali ini yang paling terlihat adalah @harry pertama terlihat ia hanya menggunakan kaos kaki saat perjalanan turun. Usut punya usut, alasan ia hanya memakai kaos kaki karena sepatunya kekecilan, sehingga sakit kalau dipaksakan.

Comments