Tentang Pesona Wanita
Kiri-kanan (Adel, Lutfi, Indry)
BARELAFEU-Selalu istimewa rasanya melihat wanita gunung. Daya pikat mereka terasa luar biasa besar, hmmm. Rasanya mereka adalah pesona lain di luar keindahan alam pegunungan kita.
Syukurnya, semakin kesini jumlah mereka semakin banyak, semakin memesonalah pegunungan kita. Semoga rasa istimewa mereka menyebar luas.
Mendengar lenguh nafas lelah mereka di jalur menanjak, sapaan "mari mas" "mari bang" "mari kak" "semangat bang" "semangat kak" "semangat mas" dari mereka, senyum tipis malu-malu mereka ketika berpapasan, tawa riang mereka saat mencapai puncak, menjadi ekspresi yang terasa lebih asik.
Coba perhatikan senyum tipis tiga wanita di atas (kiri-kanan: Adel, Lutfi, Indry). Awas terpesona.
Foto di atas adalah momen terakhir saya bersua dengan mereka, tiga wanita gunung asal Palembang. Awal kami bertemu beberapa hari sebelumnya, ketika bersama-sama ikut pendakian Gunung Kerinci pada 16-18 Agustus 2019 lalu.
Kami sempat beberapa kali bertemu, alhamdulilah tiap kali bertemu, mereka bersama wanita gunung lainnya terus menebar semangat, "semangat kak,". Pertemuan singkat, hanya interaksi saling mendahului saja.
Alhamdulilah kami kembali dipertemukan ketika sama-sama turun, tepatnya di kawasan Batu Lumut sebelum menuju Pintu Rimba.
Sebelum berjumpa, saya hanya berdua menyusuri jalur ini. Agak ngeri, karena kawasan tersebut adalah teritori macan, lebih-lebih seminggu sebelumnya empat ekor macan dilepas di kawasan ini.
Leher saya sempat sakit, saking seringnya menoleh ke belakang takut si macan tiba-tiba muncul.
Dengan Indry, saya sempat berbincang, bertanya-tanya seputar hobinya mendaki gunung. Perbincangan kami berlangsung santai, senada dengan jalur yang memang sudah landai. Tidak hanya seputar dirinya, Indry juga bercerita tentang kerabatnya Adel dan Lutfi. Ternyata mereka adalah keluarga pendaki, keren mereka.
Tentang Adel, saya sempat terheran-heran dengan cerita Indry. Pemilik alis tebal ini pernah mendaki sendirian di Gunung Dempo, Sumsel. Walaupun di jalur pendakian pasti berpapasan dengan pendaki lain, rasanya memutuskan berangkat sendiri untuk seorang wanita, tetap tidak biasa bagi saya. "Entah apa yang merasukimu (Adel), hingga kau memilih mendaki sendirian"
Alhamdulilah bisa bertemu mereka, lelah terobati, takut macan terobati, pesona mereka didapati. Ayolah mendaki lagi.
Terakhir, saya sisipkan pesan singkat dari pak Fahruddin Faiz, barangkali cocok dengan mereka yang memesona.
"Dia yang tidak lagi bisa heran dan terpesona sebenarnya seperti orang mati, matanya tertutup"
Kata pak Fahruddin Faiz, kata ini pertama diucapkan oleh Albert E.
#travelermalas
Comments